Agama Budaya Dan Masyarakat Dalam Sudut Pandang Indonesia

Menurut saya, Islam itu adalah air bening, adapun budaya setiap negara atau bangsa itu tak ubahnya gelas kaca transparan yang berwarna. Ada gelas kaca transparan berwarna merah, ada yang biru, ada yang kuning, dan seterusnya. Saat air bening itu dituangkan ke masing-masing gelas transparan berwarna tadi, kita melihatnya seolah air itu jadi berwarna sesuai warna gelasnya. Padahal air bening tetaplah air bening, dan itu terbukti saat kita meneguknya.

“Islam baru produk sakit hati runtuhnya Turki Utsmani”–kekahlifahan Islam terakhir di muka bumi–biasanya adalah Islam yang homogen dan ingin menyamakan wajah Islam di mana pun. Lalu kita mengenalnya sebagai Arabisasi. Gejala seperti ini biasanya menunjukkan bahwa Islam yang dipahami dan disebarluaskan adalah Islam sebagai bentuk luar (yang seperti identik dengan budaya Arab), Islam sebagai permukaannya saja, bukan Islam yang menyentuh hingga inti ajarannya.

Itulah pembeda Wali Songo yang kebanyakan adalah ekspatriat dari Jazirah Arab sana–kecuali Sunan Kalijaga–dengan para pribumi yang malah mempromosikan Islamisme dan lupa budayanya sendiri. Seolah budaya yang berbeda di setiap bangsa dan negara adalah suatu kesalahan, sehingga Islamisme pun seringkali malah jadi identik dengan Arabisasi.

Agama Budaya Dan Masyarakat Dalam Sudut Pandang Indonesia

Agama Budaya Dan Masyarakat Dalam Sudut Pandang Indonesia

Misal, para Wali Songo memperkenalkan rumah pendopo, dengan adanya teras di depan rumah untuk menerima tamu, adalah sebentuk adaptasi atas ajaran Islam bahwa jika suami sedang tak ada di rumah, jangan menerima tamu lelaki tanpa izin suami. Maka teras pendopo yang terbuka dan bisa dilihat oleh siapa pun adalah solusinya bagi masyarakat Jawa. Seandainya mereka diwajibkan harus meniru orang Arab yang sangat ketat menerapkan hal itu, terlebih umumnya suami-suami Jawa saat itu kebanyakan adalah petani, saya rasa Islam tak akan diterima secara luas di Jawa…

Namun, Islam gelombang baru, yang dikenal sebagai Islamisme, adalah Islam anti-budaya, anti-seni, membawa obsesi politik berkedok agama, gemar saling mengkafirkan, dan mendamba khilafah Islam, serta umumnya menyebar ke kalangan mahasiswa awam–khususnya lebih mudah diterima di kalangan anak MIPA dan Teknik–yang sejak SD hanya mendapat pelajaran agama seminggu satu kali saja di sekolahnya.

Celah inilah yang dimanfaatkan oleh Islamisme….

Maka, wajah Islam yang lekat dengan budaya Indonesia–sering diistilahkan sebagai Islam Nusantara–jadi menghilang dan malah diejek seperti “mati dikafani batik”, “wudhu pakai air kembang”, kemenyan, pesugihan, dan lain sebagainya….

Respons seperti itu saja sudah menunjukkan sikap tertutup, pikiran pendek dan mudah menyimpulkan dari para pengikut Islamisme tersebut